Satu-satunya di Indonesia, Dokter Khusus Bisa Ular

Dokter Tri maharani dengan keahlian yang langka

Ada 76 jenis ular berbisa di Indonesia dan hanya ada 3 antibisa ular. Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan tropis dengan bentangan hutan, gunung yang luas dan sungai yang terbentang panjang, merupakan wilayah subur untuk berbagai jenis flora dan fauna. Total ular yang tersebar di wilayah Indonesia, ada 348 jenis.

Tri adalah dokter dengan spesialisasi emergency medicine. Subspesialisasinya adalah toksinologi alias ilmu tentang bermacam-macam racun. Dokter ini ahli terhadap penanganan bisa ular serta gigitan hewan berbahaya, ia mulai menekuni bidang ini pada 2012 lalu saat short course di Malaysia yang membahas bisa ular. Tercatat di seluruh dunia, hanya ada 53 dokter yang memiliki keahlian serupa.

Tahun 2016, sebanyak 135 ribu orang Indonesia terkena gigitan ular. Sebanyak 728 orang diantaranya digigit ular berbisa dan 35 korban meninggal karena bisa ular. Dalam setahun dokter Maha bisa menangani lebih dari 700 pasien. Baik yang berkonsultasi langsung ke rumah sakit tempat ia praktek maupun di wilayah lain dan bahkan bisa konsultasi online melalui blog miliknya.

Dari sana, muncul keprihatinan dan semangat dalam diri Maha. Dia pun mulai berusaha memahami ular, bisa, hingga gigitannya.

Perempuan yang mendapatkan penghargaan sebagai Wanita Inspirasi Indonesia 2016 itu pun lantas membulatkan tekad berkeliling Indonesia. Dengan menggunakan uang pribadi. Untuk memberikan edukasi ke tenaga medis maupun masyarakat awam.

Dia pernah pergi ke Papua untuk mengedukasi warga yang tinggal di hutan, khususnya mengenai bisa ular. Dia juga menyampaikan cara penanganan yang benar dan tepat untuk korban gigitan ular berbisa. “Bisa ular itu tidak hematogen, melainkan limfogen. Lewat kelenjar getah bening,” paparnya.

Hampir tiap hari pula melalui telepon dia memandu petugas medis di berbagai daerah dalam memberikan pertolongan kepada korban gigitan ular berbisa. Juga, saat berkesempatan menjadi pemateri tentang kegawatdaruratan di mana saja, dia selalu menyelipkan materi tentang penanganan bisa ular.

Soal kelangkaan dokter dengan kekhususan di bidang penanganan bisa ular, menurut dia, kondisi itu terjadi karena untuk mendalaminya, seseorang harus berusaha sendiri mencari ilmunya ke luar negeri. Belum ada program pemerintah yang khusus di bidang tersebut.

Berbagai peristiwa menegangkan dalam penanganan pasien pun sudah tuwuk dijalani Maha. Terutama kalau pasien sudah sangat terlambat ditangani. Misalnya, pasien baru berobat setelah tergigit tiga bulan sebelumnya. Atau, pasien yang cara penanganan pertamanya salah.

Untuk mereka yang tergigit ular dan sedang jauh dari berbagai fasilitas kesehatan, Maha menyebutkan, yang paling penting adalah imobilisasi atau dibuat tidak bergerak selama 24-48 jam.

Sadar bahwa ilmu yang ditekuninya langka, Maha selalu membuka pintu kepada siapa saja yang tertarik untuk mempelajarinya. Dia juga terus menambah ilmu. Selain short course di Malaysia itu, dia mengikuti kursus pendek serupa di Thailand, India, dan Australia.

Itu dia lakukan sebagai bentuk pengabdian dan penghargaan terhadap nyawa sesama manusia. “Kita harus bisa menolong sesama manusia semaksimal mungkin sebelum dia meninggal,” ucapnya.

Sumber: Jawapos

Tags

Recommended