Seminggu Kerja Hanya 4 Hari?? Kok Bisa ya…

Umumnya kebanyakan hari kerja ditetapkan 5 atau 6 hari kerja dalam seminggu. Sehingga seseorang akan punya hari libur satu atau dua hari tiap pekan.

Efektivitas dalam Bekerja?

Sejak sekian lama orang-orang mencari formula untuk menemukan efektivitas kerja. Salah satunya adalah dengan mengurangi jam kerja karyawan.

Apakah pengurangan jam kerja memiliki pengaruh terhadap produktivitas karyawan? Dan apakah hal ini mampu membantu seseorang mendapatkan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan?

Bagi Anda yang menjalankan pekerjaan sebagai freelancer, ada kemungkinan Anda bekerja lebih panjang dibandingkan seharusnya.

Mungkin Anda bekerja sekitar 8 jam dalam sehari atau bahkan seringkali lebih dari itu sejak Senin hingga Jumat.

Beberapa orang bahkan memiliki jam kerja yang sangat panjang.

Misalnya saja Elon Musk yang mengaku memiliki jam kerja hingga 120 jam dalam sepekan. Sangat panjang sampai tidak mungkin bisa memiliki kehidupan pribadi dan pekerjaan yang seimbang.

Sayangnya, banyak penelitian yang menyatakan bahwa semakin panjang jam kerja yang dimiliki justru memberikan dampak yang berkebalikan dengan yang diharapkan.

Pekerja yang memiliki jam kerja lebih panjang justru lebih tidak bahagia dan membuat produktivitas kerja juga mengalami penurunan. Karena itu, penting bagi pekerja untuk mampu menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Salah satu cara yang ditempuh untuk bisa mendapatkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi adalah dengan memotong jam kerja.

Selandia Baru bahkan mencoba memangkas jumlah hari kerja dari lima hari menjadi empat hari saja.

Dampak Bekerja 4 Hari Sepekan

Sebuah firma di Selandia Baru, Perpetual Guardian, melakukan percobaan dengan memotong jam kerja karyawannya menjadi 4 hari kerja dalam sepekan pada dua pekan dalam bulan Mei.

Selanjutnya, para peneliti dari University of Auckland dan Auckland University of Technology melakukan survei pada para karyawan tersebut setelahnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengurangan jam kerja itu membantu 24 persen karyawan mendapatkan kehidupan pribadi dan pekerjaan yang lebih seimbang, dan 7 persen karyawan merasa stresnya berkurang.

Pengurangan jam kerja ini juga memberikan pengaruh yang baik pada layanan pelanggan. Selain itu, pimpinan perusahaan mengatakan secara produktivitas, para karyawan tersebut tidak mengalami penurunan produktivitas.

Percobaan pengurangan jam kerja ini bukan hanya terjadi di Selandia Baru saja, pemerintah kota Reykjavik, Islandia juga pernah memotong waktu kerja karyawan pemerintah kota selama setengah hari setiap minggunya di beberapa kantor pemerintahan.

Sedangkan di Swedia, berbagai perusahaan rintisan melakukan hal serupa. Salah satu fasilitas perawatan lansia di Svartedalen bahkan memiliki jam kerja hanya 32 jam seminggu.

Jepang, yang dikenal sebagai negara dengan tingkat “mati karena terlalu banyak bekerja” memiliki program “Shining Monday”.Pada hari Shining Monday, para karyawan diizinkan untuk datang telat ke kantor pada suatu hari Senin setiap bulannya.

Bagi perusahaan sendiri, pengurangan jam kerja ini dapat menghemat dana perusahaan karena membuat karyawan jadi lebih bahagia. Dan dengan begitu, tingkat turn over karyawan juga akan menjadi semakin rendah.

Bahkan, pada tahun 1930 ada seorang ekonom bernama John Maynard Keynes yang meramalkan bahwa suatu hari jam kerja akan hanya 15 jam seminggu.

Hal ini bisa saja terjadi karena teknologi dan produktivitas mengalami perkembangan.

Seberapa Singkat Kita Bisa Bekerja

Seorang penulis Tim Ferriss pernah terkenal karena menulis buku The 4-Hours Workweek. Dalam buku tersebut ia menulis bagaimana seseorang dapat memangkas jam kerjanya dengan melakukan serangkaian aktivitas yang dapat meningkatkan efektivitas.

Buku ini membantu seseorang terlepas dari gaya hidup gila kerja dan menjadi lebih seimbang antara pekerjaan dengan kehidupan pribadinya.

Caranya adalah dengan memangkas rutinitas kerja seperti mengecek email hanya dua kali per hari, menggunakan pencatat waktu online untuk mempercepat efisiensi, serta mengalihkan email ke asisten virtual.

Sayangnya, teori ini tidak bisa benar-benar diterapkan. Tidak ada perusahaan yang dapat beroperasi hanya dengan jam kerja yang singkat dalam satu hari.

Karena itu, buku ini sebenarnya hanya seperti memberikan gagasan untuk orang yang ingin mengefektifkan diri dan waktunya.

Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa pengurangan jam kerja memang dapat membantu seseorang menjadi lebih produktif.

Bahkan mengurangi hari kerja menjadi empat hari dalam sepekan dapat mengubah cara kerja tim dan membuat mereka mampu mengerjakan lebih banyak hal dalam waktu yang lebih sedikit.

Tidak Semua Bisa Menjalankan

Ide memotong jam kerja menjadi empat hari dalam satu pekan memang terdengar menarik dan menyenangkan. Namun sayangnya, tidak bisa benar-benar diterapkan.

Pengurangan jam kerja ini tentu saja dapat membuat pekerja menjadi lebih bahagia dan produktif. Tetapi, sampai batas tertentu hal ini justru akan menjadi hal yang biasa saja dan manfaatnya akan semakin berkurang.

Perusahaan-perusahaan yang mencoba melakukan pengurangan jam kerja pada akhirnya mengembalikan kebijakan perusahaan dan kembali menerapkan program 40 jam kerja setiap pekan atau lima hari kerja.

Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor. Misalnya, untuk bagian-bagian pelayanan, masyarakat umum tetap ingin mendapatkan pelayanan pada jam kerja biasa seperti semestinya.

Hal ini membuat tidak mungkin untuk mengurangi jam kerja atau hari kerja begitu saja.

Di beberapa perusahaan yang mencoba pengurangan hari kerja, pada akhirnya mereka tetap harus mempekerjakan karyawan tambahan untuk memastikan semua pekerjaan selesai sebagaimana waktunya.

Penambahan karyawan ini menyebabkan pengeluaran menjadi lebih banyak.

Karena itu, untuk saat ini pengurangan hari kerja mungkin belum bisa benar-benar diterapkan.

Walaupun gagasan ini terdengar cukup menarik. Beberapa perusahaan masih mempertimbangkan apakah hal ini cukup efektif untuk diterapkan atau tidak.

Pengurangan Hari Kerja, Perlukah?

Manfaat dan resiko yang timbul dari pengurangan jam kerja ini juga masih terus dipertimbangkan.

Jika manfaat yang didapat lebih banyak dibandingkan resiko yang harus ditanggung perusahaan, misalnya dari sisi biaya yang harus dikeluarkan dan produktivitas karyawan, bukan mustahil skema hari kerja seperti ini diterapkan.

Tapi bagaimanapun hipotesis Keynes tentang pengurangan hari kerja ini memang layak dilakukan uji coba. Khususnya pada industri-industri yang memungkinkan untuk jam kerja yang lebih pendek.

Proses uji coba pengurangan jam kerja ini adalah sebuah pilihan terbuka yang masih mungkin untuk bisa diterapkan dan bukan hanya sekedar gimmick.

Sumber: Finansialku

Tags

Recommended